Danau Telaga Remis

Telaga Remis menawarkan segarnya pemandangan alam khas kaki Gunung Ciremai untuk Anda yang ingin melepas penat dari padatnya aktivitas sehari-hari. Terletak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Cirebon, tepatnya di daerah Kaduela, Kuningan. Telaga Remis konon merupakan tempat pertapaan Raja Siliwangi pada masa lalu.

Nama Telaga Remis yang dalam bahasa Sunda. Yang memiliki arti embun berasal dari kisah Prabu Siliwangi yang memanfaatkan embun sebagai air minumnya saat bertapa di daerah tersebut yang dulu terkenal tandus. Sang Prabu pun kemudian membuang sisa embun tersebut seraya berdoa agar kelak daerah tersebut menjadi telaga yang berguna bagi masyarakat sekitar.

misteri telaga remis

Nyatanya, doa Prabu Siliwangi tersebut menjadi kenyataan. Kini, Telaga Remis tak hanya mampu menjadi sumber mata air bagi warga sekitar. Tapi juga telah disulap menjadi destinasi wisata yang mampu mendekatkan pengunjung pada alam. Di lahan seluas 3 hektare ini, Anda dapat menjelajahi kawasan hutan di sekitar telaga yang didiami ratusan jenis tumbuhan seperti pohon malaka, sonokeling, dan kosambi. Telaga Remis juga telah dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang seperti camping ground, kamar mandi, warung, gazebo, dan lahan parkir.

Suasana sejuk nan permai dengan pemandangan pepohonan pinus hijau menjadi sajian yang tersaji di sebuah danau kawasan Desa Kaduela, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Adalah Telaga Remis, danau yang menawarkan suasana ketenangan berbalut dengan keindahan yang alami.

Berjarak kurang lebih 37 km atau dapat ditempuh 1 jam dari pusat Kota Kuningan. Telaga Remis memiliki lahan seluas 13 hektar untuk wilayah keseluruhan. Sedangkan luas danau atau telaganya hanya mencapai 3,25 hektar.

Asal Usul Telaga Remis

Dahulu Keraton Cirebon yang dipimpin oleh Sultan Matangaji menolak untuk memberi upeti kepada Kerajaan Mataram yang seharusnya diberikan. Maka diutuslah Pangeran Selingsingan dan anak buahnya. Namun sebelum sampai tujuan, rombongan ini bertemu dengan kelompok Pangeran Purabaya dari Mataram yang ingin menagih upeti. Hingga akhirnya perang pun tak terelakkan.

Bertempat di kaki Gunung Slamet, Pangeran Selingsingan ternyata tidak bisa menandingi ketangguhan Pangeran Purabaya dan pasukannya. Hal ini yang membuatnya mundur dan mengirim pesan kepada Sultan Matangaji.

Mendengar keadaan itu, sultan mengutus menantunya yang sakti mandraguna menuju medan perang. Hal ini tidak ditolak oleh Elang Sutajaya. Demi membantu saudara-saudaranya yang tengah terdesak, dirinya berangkat membantu Pangeran Selingsingan dan memenangkan peperangan.

Sampai ditujuan, Elang Sutajaya mencari Pangeran Purabaya sebagai musuh utama. Dirinya menggunakan keris sebagai senjata dan ilmu sakti untuk mengalahkan sang utusan dari Kerajaan Mataram itu. Dan tanpa ampun, keris yang menjadi senjata Elang berhasil menghunus badan Purabaya hingga terbelah menjadi dua.

Merasa kalah, Pangeran Purabaya meminta belas kasih kepada Elang Sutajaya untuk diampuni. Dirinya merasa hanya orang biasa yang beragama islam. Namun Elang Sutajaya tak bergeming. Ia mengatakan bahwa Purabaya bukanlah muslim yang baik. Karena tidak ada muslim yang melakukan kekerasan termasuk memulai peperangan sampai membunuh.

Mendengar nasihat yang keluar dari Elang Purabaya, Pangeran Selingsingan pun menagis tanpa henti. Hingga air matanya membentuk sebuah Telaga Remis. Sedangkan Pangeran Purabaya berubah wujud menjadi seekor Bulus atau kura-kura. Bulus tersebut diberi nama Si Mendung Purbaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *